Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Ayah dan Bunda yang kami muliakan,
Di era yang serba cepat ini, anak-anak kita tidak cukup hanya dibekali dengan “apa yang harus dihafal”, tetapi mereka harus paham “mengapa itu terjadi” dan “bagaimana memecahkannya”. Namun, kecerdasan otak saja kering tanpa basuhan kasih sayang di jiwa.
Oleh karena itu, Madrasah kami menerjemahkan Visi “Unggul, Kreatif, dan Berakhlaqul Karimah” melalui perpaduan metode pembelajaran yang unik: Deep Learning untuk akalnya, dan Kurikulum Cinta untuk hatinya.
1. Kurikulum Cinta: Karena Pendidikan Bermula dari Hati
Kami meyakini sebuah kaidah: “Sentuh hatinya, maka otaknya akan terbuka.”
Sebelum ilmu pengetahuan masuk, rasa nyaman dan dicintai harus tumbuh terlebih dahulu. Inilah fondasi Misi kami dalam “Menanamkan sikap akhlakul karimah melalui keteladanan”.
Dalam proses pembelajaran intrakurikuler (di dalam kelas), pendekatan cinta kami wujudkan melalui:
- Guru sebagai Murabbi: Guru bukan sekadar pengajar, tapi orang tua kedua. Sapaan hangat, tatapan mata yang tulus, dan pendekatan tanpa kekerasan adalah standar kami.
- Lingkungan Anti-Bullying: Kami menciptakan atmosfer kelas yang saling menghargai. Kesalahan dalam belajar tidak dicemooh, tapi diperbaiki dengan lembut.
- Apresiasi Proses: Kami tidak hanya memuji nilai 100, tapi kami memuji usaha keras siswa. “Bagus nak, usahamu luar biasa,” adalah kalimat ajaib yang sering terdengar di kelas kami.

2. Deep Learning: Belajar yang Bermakna, Bukan Sekadar Hafalan
Sesuai Misi kami untuk “Meningkatkan mutu pendidikan sesuai IPTEK” dan “Pembelajaran Inovatif”, kami menerapkan Deep Learning (Pembelajaran Mendalam).
Kami meninggalkan cara lama di mana siswa hanya duduk diam mendengarkan ceramah. Di Madrasah kami, siswa diajak menyelami ilmu (Deep Learning) melalui tiga pilar: Mindful (Menyadari), Meaningful (Bermakna), dan Joyful (Menyenangkan).
Bagaimana praktiknya di kelas MI?
- Dari “Apa” ke “Mengapa”: Dalam pelajaran Sains, siswa tidak hanya menghafal nama bagian tumbuhan, tapi diajak meneliti: “Mengapa daun berwarna hijau? Apa yang terjadi jika tumbuhan tidak terkena matahari?” Ini melatih nalar kritis mereka.
- Literasi & Numerasi Kontekstual: Belajar matematika bukan hanya menghitung angka di papan tulis, tapi memecahkan masalah sehari-hari. Misalnya, menghitung zakat fitrah atau mengukur luas sajadah musholla.
- Diskusi dan Kolaborasi: Siswa duduk berkelompok, berdiskusi, dan berani menyampaikan pendapat. Ini melatih kepercayaan diri dan komunikasi sejak dini.

3. Integrasi IMTAQ: Mengakar Kuat pada Ajaran Aswaja
Keunggulan kurikulum kami adalah integrasi nilai Islam dalam setiap mata pelajaran umum.
- Saat belajar Biologi, siswa diajak bertadabbur atas kebesaran ciptaan Allah.
- Saat belajar Sejarah, siswa mengambil hikmah keteladanan para tokoh Islam.
- Saat belajar Bahasa, siswa diajarkan tutur kata yang santun (Qaulan Karima).
Proses ini memastikan Misi “Pendidikan bernafaskan Islam berlandaskan Ahlussunnah Wal Jama’ah” benar-benar hidup dalam setiap nafas pembelajaran, bukan hanya saat pelajaran agama saja.
![FOTO 3: Siswa Mempresentasikan Karya/Project]
(Caption:

Komitmen Kami untuk Buah Hati Anda
Kami percaya, dengan memadukan ketajaman nalar (Deep Learning) dan kelembutan hati (Kurikulum Cinta), insya Allah Ananda akan tumbuh menjadi generasi yang tidak hanya cerdas menguasai dunia, tetapi juga sholeh/sholehah sebagai bekal akhirat.
Mari bersinergi mewujudkan pendidikan yang memanusiakan manusia.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Lainnya
✨ Haflah Akhirussanah MI Darun Najah Kloposepuluh 2023/2024
Market Day: Serunya Belajar Jadi Pengusaha Cilik yang Jujur dan Kreatif
Gema Sholawat di Peringatan Maulid Nabi: Meneladani Akhlak Sang Uswatun Hasanah